Aangsunu's Blog

  • June 2010
    M T W T F S S
        Jul »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  

Penjualan Mobil Impor Diprakirakan akan Meningkat

Posted by aangsunu on 29 June 2010

Membaiknya nilai tukar rupiah membuat Asosiasi Importir Kendaraan Indonesia (AIKI) optimis total penjualan mobil impor melalui importir umum (IU) akan meningkat dua kali pada tahun ini. AIKI memprakirakan total penjualan pada tahun 2010 dapat tembus hingga 6.000 unit.
Ketua AIKI H Tommy R Dwiananda, akhir pekan lalu, mengatakan, membaiknya ekonomi setelah krisis tahun lalu serta kurs rupiah yang relatif stabil dapat mendongkrak penjualan mobil impor. Pada tahun lalu penjualan hanya dapat mencapai 3.000-an unit, tahun ini akan meningkat hingga 50 persen dibandingkan tahun lalu.
“Bahkan penjualan selama dua bulan pertama tahun ini saja sudah dapat mencapai 600 unit. Penjualan itu cukup bagus dan bisa sebagai indikator awal untuk penjualan tahun ini,” kata Tommy.
Mobil impor itu, kata Tommy, masih didominasi oleh merek Toyota. Mulai dari mobil MPV hingga city car. Penjualan Toyota Alphard atau Toyota Velfire mendominasi penjualan dikalangan IU. Penjualan dari kedua model itu bisa mencapai lebih dari 80 persen dibandingkan merek atau varian lain. Sedangkan untuk mobil premium tercatat penjualan Ferrari cukup baik dengan jumlah pemesanan selama dua bulan pertama mencapai 20 unit.
Meskipun, kata Tommy, penjualan mobil melalui IU masih banyak kendala dibandingkan penjualan mobil yang dilakukan oleh Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). Hal yang terlihat adalah masalah jaringan after sales, seperti layanan bengkel, yang jumlah masih sangat terbatas. Untuk menambah jumlah bengkel juga tidak mudah karena harus ada persyaratan yang cukup ketat.
“Bengkel yang dikelola oleh IU harus mendapatkan sertifikasi seperti dari Surveyor Indonesia. Belum lagi para mekanik juga harus mendapatkan sertifikat. Saat ini jumlah bengkel IU, yang merupakan jaringan dari para pengelola IU, baru mencapai lima bengkel dan sudah mendapatkan sertifikasi. Seperti Simpruk Mobil,” kata Tommy.
Direktur Marketing PT Nissan Motor Indonesia Teddy Irawan mahfum dengan kondisi para pelaku usaha IU. Dia mengatakan, para IU itu mempunyai pasar yang tertentu atau segmen yang terbatas. Sedangkan ATPM mempunyai pasar yang besar sehingga memasukan mobil berdasarkan pasar atau volume. Meski demikian Nissan juga masih membuka pintu terhadap mobil CBU Nissan yang masuk melalui jalur IU.
“Tentu ada syarat-syarat. Seperti tools atau peralatan yang kami miliki bisa melayani akan kami layani. Dan ada biaya administrasi yang harus dibayarkan oleh pemilik mobil itu,” kata Teddy.
Masalah pembelian mobil IU sempat mencuat beberapa waktu lalu dengan ada penolakan pemilik Porsche untuk melakukan service di bengkel resmi Porsche di Indonesia. Sementara mobil itu dibeli melalui IU. Menanggapi hal itu, Tommy mengatakan, sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi. Paling tidak kasus itu bisa dikomunikasikan antara pembeli dengan dealer dan akhirnya kasus itu bisa diselesaikan.
“Ini berbeda dengan Ferrari. Pembeli membeli mobil melalui IU. Importir membeli melalui dealer yang ada di Singapura. Dealer di negara itu bekerja sama dengan dealer yang ada di Indonesia, sehingga jika ingin service atau perbaikan bisa dilakukan di bengkel resmi Ferrari di Indonesia. Meskipun membelinya melalui IU. Nama Ferrari cukup baik di konsumen,” kata Tommy.
Meski demikian pihak IU juga tidak mau asal masukkan mobil impor ke Indonesia kalau secara teknis dan spesifikasi sulit untuk dipenuhi. Tommy mengatakan, meskipun ada yang meminta tetapi IU tidak bisa memenuhi standar teknis ketika ada masalah permintaan itu akan ditolak.
Garansi hilang
Semua mobil yang dibeli melalui IU juga memiliki garansi layaknya membeli melalui ATPM. Namun yang membuat Tommy masih bingung adalah perilaku konsumen di Indonesia yang enggan memahami syarat dan aturan dari masa berlaku suatu garansi. Termasuk malas membaca buku manual yang ada di setiap mobil.
“Selama masa garansi, pemilik mobil di Indonesia sudah melakukan modifikasi. Nah, saat terjadi sesuatu dan mobil sudah dimodifikasi klaim garansi tentu tidak akan berlaku. Seperti ban. Ban dan pelek oleh pemilik diganti yang lebih besar. Misalnya mobil itu memakai ban dan pelek ukuran 17 inci, diganti menjadi ukuran 21 inci. Saat terjadi masalah klaim terhadap masalah pada bagian roda bisa hangus. Tetapi kami masih ada toleransi hingga 2 inci di atas normal. Dari 17 inci dipakai 19 inci,” kata Tommy.
Mengenai pemahaman produk, kata Teddy, konsumen yang membeli mobil masih banyak yang enggan menerima penjelasan dari sales. Konsumen mengganggap sudah banyak tahu mengenai seluk beluk mobil yang dibelinya sehingga tidak perlu lagi penjelasan. Bahkan ada kasus pemilik mobil tidak tahu letak menyimpan dongkrak mobil itu. (ang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: