Aangsunu's Blog

TDL Naik Pengusaha Kecil Siap Bangkrut

Posted by aangsunu on 1 July 2010

Kenaikan tarif dasar listrik (TDL) pada tanggal 1 Juli membuat pelaku usaha konveksi rumahan pasrah seperti pantauan Warta Kota, Rabu (16/6). Mereka mengaku kenaikan TDL itu semakin mengurangi daya saing usaha konveksi rumahan yang semakin terpuruk.
“Ya pasrah kalau memang naik hingga 16 persen pada tanggal 1 Juli. Kalau bisa bertahan, ya kami bertahan. Kalau tidak, ya usaha yang sudah sudah berjalan bertahun-tahun tutup. Dengan kenaikan hingga 16 persen sangat berat. Apalagi kenaikan itu menjelang tahun ajaran baru,” kata Haryati, pemilik konveksi rumahan di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.
Haryati juga kuatir kenaikan TDL itu juga akan berpengaruh pada hal lain. Seperti bahan baku kain atau pakaian. Apalagi tahun ajaran baru dipakai untuk menambah pemasukan. Namun dengan kenaikan TDL itu masih akan menghitung lagi biaya yang akan dikeluarkan.
Selama ini Haryati memakai tiga mesin konveksi untuk menjalankan usahanya. Ketiga mesin itu masih mengandalkan listrik. Setiap bulan biaya untuk pemakaian listrik tidak kurang dari Rp 1 juta. Itu belum termasuk membayar gaji empat karyawannya. Sementara sampai saat ini belum ada pengganti alternatif untuk menjalankan mesin-mesin itu.
“Kalau listrik mati kami tidak mendapatkan kompensasi apa-apa. Sementara pelanggan tidak mau tahu, apakah listrik mati atau tidak. Pelanggan tahunya pesanan jadi sesuai dengan kesepakatan. Telat membayar langsung kena denda,” kata Haryati.
Kondisi serupa juga dirasakan oleh pemilik konveksi di kawasan Cipadu, Tangerang.  Di tempat para pengusaha konveksi juga pasrah dengan kenaikan TDL pada awal bulan nanti. Mereka mengatakan, kondisi saat ini tidak tepat untuk menaikan TDL karena usaha konveksi juga sedang menurun.
“Akan semakin berat untuk bersaing. Belum selesai persaingan dengan konveksi China. Sekarang sudah dihadapi kenaikan TDL. Ini saja bertahan karena masih ada pelanggan lama. Kalau mengharapkan pelanggan baru sudah sangat sulit,” kata seorang pengusaha konveksi yang enggan disebutkan namanya itu.
Dia mengatakan, biaya pemakaian listrik merupakan komponen terbesar dalam usaha ini. Biaya bulanan untuk pemakaian listrik rata-rata mencapai Rp 3 jutaan. Biaya itu masih diluar biaya gaji karyawan, pembelian bahan baku, dan lainnya. Sementara kalau listrik mati, biaya pemakaian listrik tetap jutaan rupiah tanpa ada kompensasi sama sekali.
Keluhan serupa juga dirasakan oleh pengusaha warnet dan fotokopi. Gunadi, pengelola warnet di kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat, mengatakan, kenaikan TDL akan menambah biaya operasional bulanan. Biaya listrik merupakan biaya terbesar dalam menjalankan usaha warnet.
“Mau naikan harga sewa, sepertinya juga berat. Apalagi persaingan warnet semakin banyak. Dengan harga sewa pemakaian internet rata-rata Rp 4.000/jam saja sebenarnya sudah berat. Mau berapa lagi harga sewanya?” kata Gunadi. (ang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: