Aangsunu's Blog

Apakah KBT Menjamin Jakarta Bebas Banjir?

Posted by aangsunu on 9 July 2010

19 Februari 1918 banjir besar melanda Jakarta, kala itu bernama Batavia. Saat itu 60 persen wilayah Batavia tergenang air. Akibat peristiwa itu Gemeenteraad Batavia, saat ini disebut DPRD, menggelar rapat paripurna. Anggota Gemeenteraad Batavia memanggil Walikota Bischop, termasuk ahli tata air Batavia, Herman van Breen.
Rapat itu membahas musibah itu termasuk antisipasi banjir. Van Breen dalam rapat mengusulkan agar Batavia dibangun kanal banjir. Tahun 1922 kanal itu dibangun dari Manggarai hingga Muara Angke. Kanal itu ”membelokan” sebagian aliran air Sungai Ciliwung agar tidak semuanya masuk ke tengah kota Batavia. Kanal itu dapat diselesaikan dalam waktu satu tahun karena jumlah penduduk belum padat.
Di depan para anggota Gementeraad Batavia, Van Breem mengatakan, kanal itu tidak menjamin Batavia akan bebas banjir. Itu dipengaruhi debit Sungai Ciliwung terus bertambah akibat perubahan lahan di kawasan Puncak dari hutan karet menjadi perkebunan teh. Itu mempengaruhi kemampuan kawasan Puncak sebagai daerah tangkapan air menjadi berkurang.
1 Febuari 2007 atau 89 tahun kemudian Jakarta kembali dilanda banjir. Musibah itu merupakan musibah banjir terbesar dibandingkan tahun 1996, 2002, dan 2006. Banjir itu menggenangi wilayah Jakarta hingga 90 persen. Sebanyak 41 kecamatan dari 44 kecamatan terendam air. Dengan cakupan luas wilayah yang terendam banjir itu melebihi banjir di tahun 1918. Dengan kerugian mencapai Rp 4,3 triliun.
Padahal sebelum musibah itu di tahun 2003 Presiden Megawati Soekarnoputri mencanangkan pembangunan proyek kanal banjir timur (KBT) sepanjang 23,5 km dari Cipinang, Jakarta Timur hingga Marunda, Jakarta Utara. Apalagi di tahun 1996 dan 2002 Jakarta juga banjir. Kanal itu merupakan proyek yang tertunda selama 30 tahun. Proyek itu sebenarnya dicanangkan tahun 1973. Tetapi tidak bisa dilaksanakan karena terbentur dana untuk pembangunan proyek.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Pitoyo Subandrio mengatakan, dana untuk pembangunan proyek KBT ini sebesar Rp 4,9 triliun. Dana itu dibagi dua antara pemerintah melalui APBN, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui APBD. Dana melalui APBN dikucurkan sebesar Rp 2,4 triliun, dan APBD DKI Jakarta sebesar Rp 2,5 triliun.
”Dana dari APBD dipakai untuk membebaskan lahan atau tanah untuk pembangunan kanal sepanjang 23.5 km. Sedangkan dana dari APBN dipakai untuk pembangunan konstruksi, seperti jembatan dan pintu air,” kata Pitoyo (27/11).
Sejak dicanangkan enam tahun lalu, dari pantauan di lapangan menunjukkan, pembangunan kanal belum semua digali. Seperti di Jalan Pahlawan Revolusi masih ada pembangunan jembatan yang belum usai. Tidak jauh dari situ juga masih terdapat menara listrik saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) yang belum dipindah. Tower listrik itu berada di tengah-tengah kanal.
Pitoyo mengatakan, selain tower itu masih ada lahan yang belum dibebaskan. Tanah yang belum dibebaskan seluas lima hektar yang tersebar di beberapa kawasan, seperti Raden Inten, Pondokkopi, Pondokbambu, dan Ujungmenteng yang berada di perbatasan Jakarta Timur dan Bekasi, Jawa Barat. Diharapkan lahan itu secepatnya dibebaskan sehingga proyek ini dapat dilanjutkan. Pembebasan tanah itu dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Pitoyo mengatakan, daya tampung air di kanal itu sebanyak 370 meter kubik air per detik di puncak musim hujan. Daya tampung itu hanya dapat mengurangi risiko banjir di Jakarta hingga 30 persen. Jika terjadi hujan luar biasa, kawasan di sekitar tetap akan terkena limpahan air yang meluap dari KBT.
”Proyek KBT itu segera selesai dan itu sangat baik untuk kendalikan banjir. Bagaimanapun Jakarta tetap akan banjir karena Jakarta berada di dataran rendah dan dilintasi 13 sungai. Tidak ada perubahan iklim Jakarta pasti banjir, dan akan semakin parah dengan adanya perubahan iklim ini,” kata Direktur Iklim dan Energi WWF Indonesia Fitrian Ardiansyah.
Pitoyo dan Ardiansyah mengatakan kanal hanya bisa mengurangi risiko banjir hingga 30 persen dan Jakarta tetap banjir, pernyataan itu mirip dengan pernyataan Herman van Breen. Van Breen di depan para anggota Gementeraad Batavia mengatakan, kanal banjir barat tidak akan membebaskan Batavia dari banjir. (ang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: