Aangsunu's Blog

Opor Sehat Tanpa Santan

Posted by aangsunu on 17 July 2010

sumber : Warta Kota

ANDA tentu familiar dengan masakan opor. Ya, biasanya biasanya berisi daging ayam yang dimasak dengan bumbu tertentu plus kuah santan. Bagi Anda yang takut kolesterolnya naik lantaran mengonsumsi santan, ada opor yang dibuat tanpa menggunakan santan.
Untuk menghindari santan, Rumah Makan Dapur Betawi di Jatiasih, Bekasi, mengajak para pelanggan menyantap masakan tanpa santan tapi tetap lezat dan sehat.
“Tanpa santan pun masakan opor ini tetap enak untuk dinikmati. Jadi mereka yang sudah lansia atau yang memang ingin menghindari kolesterol bisa menikmati opor ayam tanpa rasa khawatir,” kata Ranu Vishuda, Manager Operasional RM Dapur Betawi, ketika ditemui beberapa waktu lalu.
Di Dapur Betawi ini Ranu meramu opor ayam tanpa santan. Resepnya dia ‘kawinkan’ antara resep dari Jawa dan dari China. Pada dasarnya bumbunya sama dengan bumbu opor ayam biasa, dengan bawang merah dan bawang putih. Ayamnya disuwir dan dicampur dengan potongan jamur merang dan kentang goreng yang telah dipotong-potong kotak.
Menurut Ranu, opor ayam ini dikenal dengan nama opor keset (karena tekstur dagingnya yang kasar) dan sudah ada sekitar tahun 1960-1970. Pemakaian jamur merang dan bawang putih merupakan pengaruh dari China. Sebagai pengganti santan dipakailah susu kedelai.
Meski tidak memakai santan, rasanya tetap gurih dan enak, layaknya opor ayam. Menu ini biasanya ada menjelang Lebaran atau bisa dipesan untuk acara pesta atau arisan. Per paket opor ayam untuk sekitar 10-15 orang harganya Rp 150.000.
”Menu opor ayam ini sudah lama ada di Dapur Betawi, tetapi baru sekarang kami mencoba dengan olahan terbaru tanpa menggunakan santan. Resepnya saya dapatkan dari ibu dan tante saya, lalu dipadukan kembali dengan resep yang saya buat,” tutur Ranu yang juga berencana mengolah rendang tanpa santan.
Selain itu, keunikan lain yang disajikan di rumah makan yang sudah enam tahun berdiri ini adalah adanya nasi uduk yang menggunakan 12 bumbu rempah dan juga tanpa menggunakan santan.
Teknik pemasakan nasi uduk ini juga cukup unik, yakni menggunakan terapi uap. Wah apalagi ini? Ranu menuturkan, agar ke-12 bumbu bisa meresap dengan sempurna ke dalam beras, dirinya menggunakan cara penguapan. Jadi ke-12 bumbu itu tidak ada yang dihaluskan, semua dalam keadaan utuh.
Sebelumnya beras yang akan dipakai direndam dulu selama 3-4 jam supaya empuk. Jadi, ceritanya uap bumbu itu akan lebih mudah meresap ke beras. Proses pemasakannya kurang lebih dua jam.
Pengukusan pertama, imbuh Ranu, akan memakan waktu 45 menit. Kemudian diangkat dan setelah agak dingin barulah disiram dengan susu kedelai. Setelah itu barulah dikukus lagi. Ke-12 bumbu itu juga bukan sesuatu yang rahasia. Biasa saja, antara lain kayu manis, cengkeh, lada, biji pala, sereh, kencur, daun salam, daun jeruk, jahe, ketumbar, lengkuas, daun pandan.
Namun, menu nasi uduk ini ada pada malam hari, karena juru masak baru mulai memasak sesudah tengah hari. Sebagai teman lauknya bisa dipilih, antara lain bebek goreng ala Dapur Betawi, ayam goreng, tahu dan tempe goreng, serta sambal.
Meski disebut Rumah Makan Dapur Betawi, tidak semua makanan yang ditawarkan adalah makanan dari Betawi. Malah cenderung internasional. Terlihat dari buku menu tersedia mulai dari makanan ringan seperti bakso, mi ayam, siomay, sandwich, kentang goreng.
Ada juga makanan ala Jepang seperti nasi chicken katsu, nasi okado. Serta sisanya olahan masakan China, seperti cap jay, ayam saus mentega, ayam kuluyuk, iga bakar, kangkung hot plate dan masih banyak lagi. Harga makanan berkisar Rp 7.000-Rp 25.000 per porsi.
”Di tempat kami yang menjadi favorit pelanggan adalah gurame bakar, nasi goreng, dan hot plate. Jika ada makanan ringan yang disediakan, itu karena juga permintaan dari pelanggan,” katanya. Sedangkan untuk yang segar-segar, tersedia antara lain variasi es krim, jus buah segar.
Suasananya rumah makan ini cukup menarik, terdiri dari tiga bagian ruang. Pertama di bagian teras terdapat meja kursi yang berhadapan langsung dengan makanan ringan (bakso, mi, siomay). Ruang kedua, ada dua set sofa terbuat dari bambu dan pengaturannya lebih formal. Sedangkan ruang ketiga berupa tempat lesehan. (Dian Aditya Mutiara)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: