Aangsunu's Blog

  • September 2010
    M T W T F S S
    « Aug   Oct »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  

Situs Banten Lama “Hak Milik Masyarakat”

Posted by aangsunu on 12 September 2010

TANAH ini hak milik masyarakat. Tulisan ini terlihat jelas di papan pengumuman jika Anda mampir ke lokasi wisata bekas kompleks Istana Surosowan dan Museum Situs Kepurbakalaan Banten di Banten Lama, Provinsi Banten yang berjarak kurang lebih 10 kilometer dari Kota Serang itu.
Memang lucu dan unik, lokasi situs tertulis tanah hak milik masyarakat. Selain itu, di sekitar bekas istana saat ini juga dipenuhi dengan pedagang kaki lima (PKL) sepanjang kurang lebih 100 meter.
Bekas kompleks Istana Surosowan yang dibangun sekitar abad 16 dikelilingnya terdapat Masjid Agung Banten, Masjid Pakojan, Benteng Spielwijk, Benteng Kerkoff, Keraton Kaibon bisa dijadikan salah satu pilihan untuk berwisata. Namun di sana tidak bisa melihat bangunan yang menyerupai istana. Tetapi hanya dapat melihat sisa-sisa bangunan yang tinggal dinding bata merah setinggi 2 meter dengan lebar sekitar lima meter yang mengelilingi bekas istana di lahan seluas tiga hektar.
Istana itu dulunya ada di Surosowan merupakan ibukota dari Kerajaan Banten yang sebelumnya pusat kekuasan berada di Banten Girang. Dengan penguasa pertama adalah Sunan Gunung Jati atau dikenal dengan Syeik Syarif Hidayatullah yang tidak dinobatkan sebagai raja pertama. Tetapi anak laki-lakinya bernama Maulana Hasanuddin yang berkuasa di kerajaan.
Pada bagian dalam bekas istana yang juga dinamakan Kedaton Pekawon dapat ditemui kolam bekas pemandian, goa, dan sisa-sisa pondasi.  Sedangkan di Museum Situs Kepurbakalaan Banten, dapat dilihat hasil peninggalan kerajaan Banten. Termasuk meriam Ki Amuk yang merupakan pasangan dari meriam Si Jagur yang saat ini berada di Museum Sejarah Jakarta.
Kolam air yang terdapat di bekas istana masih terisi air. Kolam yang disebut dengan Roro Denok itu dulu dipakai untuk mandi. Di sekitar kolam terdapat beberapa buah pancuran yang bernama pancuran emas.
Kabarnya, pada saat itu pancuran itu terbuat dari emas yang berjumlah enam buah. Sekarang pancuran tersebut sudah diganti dengan pancuran biasa. Kolam itu merupakan penampungan air bersih yang sudah disaring yang bersumber dari tasikandi. Sampai sekarang air masih mengalir. Bahkan, setiap malam Jumat banyak orang yang datang untuk berziarah.
Sekarang ini disekitar kolam sedang dilakukan perbaikan pondasi yang dilakukan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang. Pasalnya, pondasi sudah hancur dan perbaikan itu diupayakan sesuai dengan aslinya. Seperti lebar batu bata merah yang disesuaikan dengan aslinya.
Selain bekas Istana Surosowan, juga dapat dilihat Keraton Kaibon yang  berjarak sekitar 300 meter dari Surosowan. Keraton tersebut disebut sebagai tempat tinggal Ratu Aisiah yang merupakan ibu kandung Sultan Safiuddin. Bangunan ini juga sudah tidak utuh lagi karena dirusak oleh pemerintahan kolonial Belanda.
Menurut Petugas BP3 Serang Mulangkara, bekas istana ini masih sering dikunjungi orang. Termasuk para mahasiswa yang ingin melakukan penelitian. Tentang bekas istana Surosowan juga masih utuh. Namun saat ini hanya tersisa seperti sekarang ini. “Kabarnya batu merah tersebut diambil pada jaman penjajahan Belanda. Dipakai untuk membangun gedung. Seperti kantor gubernur yang saat ini dipakai kantor Gubernur Banten.”
Bekas istana, katanya, masih banyak orang yang menengok. Tetapi tidak sedikit orang yang datang ke dalam bekas istana khusus mendatangi kolam Roro Denok. Namun kedatangannya berhubungan dengan mistik. Sehingga kolam tersebut dijadikan tempat ziarah.
Sayangnya, lokasi wisata yang bisa dijadikan sarana pendidikan sedikit terusik dengan ada pengumuman yang menyatakan “Tanah Ini Hak Milik Masyarakat”. Papan itu dipasang di halaman depan museum dan depan bekas istana. Mulangkara mengatakan, ada papan itu bermula ketika pada tahun 1982 warga yang tinggal di sekitar bekas istana diminta pindah.
Ini berkaitan dengan pengggalian bekas istana yang sudah dimulai sejak tahun 1976. Saat itu, warga yang tinggal di sekitar bekas istana diminta pindah ke Kampung Sukajaya yang berjarak sekitar 500 meter dari istana. Warga yang pindah mendapatkan ganti rugi bangunan dan tanaman. Lokasi yang dipakai warga untuk tinggal itu berada di atas lokasi situs.
Seiring dengan eurofia reformasi, sekitar tahun 2000 masyarakat sepertinya ingin menuntut lokasi itu. Warga mengklaim bahwa tanah tersebut adalah milik warga. “Jadilah warga memasang patok pengumuman bahwa tanah milik masyarakat,” kata Mulangkara.
Dalam pengamatan, jalan masuk yang mempunyai lebar sekitar empat meter ke dalam istana, museum, dan Masjid Agung Banten, jika para PKL berdagang terkesan kumuh. Namun karena bertepatan bulan Ramadan, tidak satupun PKL yang berdagang.
Tetapi bagaimanapun, Banten Lama masih dapat dijadikan salah satu alternatif wisata yang layak untuk dikunjungi. Di sana, paling tidak dapat mengetahui sejarah kerajaan Islam yang membangun Banten pertama kali. (ang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: